Malam Hari di Benteng Vredeburg Yogya

Malam Hari di Benteng Vredeburg Yogya

Sobat pernah melihat film Night at the Museum? Film fantasy yang menceritakan tentang petualangan seru seorang penjaga museum yang menjaga museum dikala petang hingga pagi dan secara ajaib seluruh koleksi museum dapat hidup dan berkeliaran di museum. Pasti seru dan menegangkan kalau itu benar- benar terjadi. Sobat ingin tahu bagaimana sensasi menjelajahi museum dimalam hari? Pas banget nih, pada artikel kali ini, saya mau bahas tentang pengalaman menarik mengikuti acara Jelajah Malam Museum di Museum Benteng Vredeburg.

Sobat yang tinggal atau sedang berada di Jogja dan sekitarnya bisa nih mengikuti acara yang diadakan oleh Komunitas Malam Museum yang bekerjasama dengan pengelola Museum Benteng Vredeburg. Biasanya mereka mengadakan acara ini setiap satu bulan sekali di hari Minggu. Dengan fasilitas kaos, snack, air mineral dan makan malam, peserta tidak dipungut biaya alias GRATIS. Tapi sobat, untuk menjadi peserta, kita harus berlomba untuk mendapat kuota peserta yang hanya 100 orang. Dan biasanya hanya dalam waktu satu jam, kuota peserta sudah penuh. Tips untuk kamu yang pengen ikut acara dari Komunitas Malam Museum, jangan lupa nyalakan notifikasi instagram @malamuseum, supaya kamu bias gercep ikutan acara yang diselenggarakan oleh mereka. Setelah mendaftar ke contact person Malam Museum, biasanya ada syarat lanjutan, kalau kemarin sih kami diminta untuk posting foto di instagram tentang acara Jelajah Malam Museum bulan yang lalu.

Acara Jelajah Malam Museum berlangsung dari jam 16.00 sampai jam 21.00 WIB, dimulai dengan registrasi peserta dan pembagian kaos, air mineral dan snack. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan sekaligus pembukaan dari Kepala Museum Benteng Vredeburg. Setelah itu, peserta dibagi menjadi dua kelompok untuk mengikuti jelajah keliling museum di diorama 1 dan 2. Selama jelajah museum, pemandu menjelaskan mengenai Benteng Vredeburg dan koleksi- koleksi yang ada disana.

Benteng Vredeburg  dibangun pada tahun 1765 oleh Pemerintah Belanda untuk menahan serangan dari Keraton Yogyakarta. Mulanya benteng ini bernama Benteng Rustenburg yang berarti “Benteng Peristirahatan” namun kemudian diubah namnya menjadi Benteng Vredeburg yang berarti “Benteng Perdamaian”. Setelah masa penjajahan Belanda, Benteng Vredeburg digunakan sebagai markas besar TKR. Dan sejak tahun 1987, Museum Benteng Vredeburg resmi dibuka untuk umum.

Ruangan diorama 1 dan 2 pun dulunya merupakan kamar-kamar prajurit TKR, sehingga beberapa koleksi alat makan seperti sendok, garpu, piring, gelas dan botol minum milik prajurit TKR ada disitu. Koleksi lainnya adalah diorama- diorama yang menggambarkan  kejadian yang terjadi di masa penjajahan hingga pasca kemerdekaan. Ada juga koleksi barang- barang peninggalan dari para tokoh sejarah seperti Jendral Sudirman, Dr. Sarjito dll.

Usai  menjelahi museum, kami diberi waktu untuk melaksanakan istirahat dan ibadah Sholat Maghrib. Acara game penjelajahan museum pun tiba, namun sebelumnya peserta diminta untuk membuat kelompok yang terdiri dari 5 orang. Setiap kelompok mendapat sebuah tantangan untuk dapat diselesaikan sesuai aturan dan waktu yang sudah ditentukan.

Misi pertama adalah menempelkan gambar pahlawan Indonesia di peta yang sudah disediakan sesuai dengan daerah asalnya. Dari tantangan tersebut kita harus dapat menempel gambar sebanyak- banyaknya dan juga harus tepat dalam meletakkan gambarnya. Tantangan ini membuat kami sedikit memutar kembali ingatan ketika masih belajar sejarah di sekolah formal. Selesai pada tantangan pertama, kami mendapat tantangan kedua yaitu menyelesaikan semua misi yang ada di modul yang disediakan panitia. Kami diajak untuk menyelesaikan teka-teki yang jawabannya ada diantara koleksi di Diorama 1 dan 2. Butuh ketelitian , memori  dan stamina yang tinggi untuk dapat menyelesaikan misi sesuai waktu yang ditentukan. Dari tantangan tersebut, kita secara tidak langsung diajak belajar kembali pelajaran sejarah namun dengan metode yang lebih menyenangkan.

Setelah menyelesaikan semua misi, kami berkumpul lagi untuk makan malam sambil melihat pertujukan alat music tradisional dari Kalimantan, Sape namanya. Dimaikan oleh grup music dari Barakat Jubata, petikan dawai Sape mampu membius perhatian peserta. Dengan alunan yang begitu syahdu di telinga, konon menurut mitologi Dayak, alunan music sape terinspirasi dari dentingan air. Pertunjukan Barakat Jubata dilanjutkan dengan tanya jawab seputar alat music Sape dan grup music mereka sendiri.

Pembagian hadiah untuk setiap tantangan diumumkan pada saat penghujung acara. Dan syukur saya sembahkan, karena kelompok saya memenangkan tantangan menyelesaikan misi. Yay! Seluruh kerja keras kami terbayarkan namun kalupun tidak menangpun saya juga akan tetap bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk menjadi peseta Jelajah Malam Museum. “JAS MERAH”. Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah, kutipan dari Bung Karno yang semoga Sobat semua selalu ingat sampai tubuh menyatu dengan Tanah Air tercinta ini lagi.

Penulis Wintari Ita

Bang Toms

Feel good for blogging, travelling, and camera.

This Post Has 5 Comments

  1. Sangat lengkap ! terimakasih banyak infonya

  2. Terimakasih infonyaa

  3. sister itak, kunjungan kapan nie kasi tgl yg jelas yah, biar g rancu. G mesti minggu cuy, kadang jumat/sabtu. Terus hiburan nya jg beda2 tiap waktu. Peserta nya kalangan apa, dari mana. Kasi poto lebih cakep deh. Suwun. Oiya lupa, penyelenggara nya sapa nih, janlup sebut sponsor n media partner ^_^

    1. haloo Risna, maaf ya luput. itu acaranya Minggu, 7 April 2019. Kalau penyelenggaranya sudah saya jelaskan yaaa, yaitu Komunitas Malam Museum dan pengelola museum benteng vredebrug. Usia peserta dari kalangan pelajar sampai mahasiswa. Untuk acara dan lain2nya memang tergantung panitia, bisa langsung kepoin ig @malamuseum

  4. <3

Tinggalkan Balasan

Close Menu