Gunung Sumbing, Si Tertinggi Ketiga Se Jawa dan Delapan Pendaki Pemula.

Gunung Sumbing, Si Tertinggi Ketiga Se Jawa dan Delapan Pendaki Pemula.

Tulisan kali ini akan membahas perjalanan Vuvuwawa Team, beberapa bulan yang lalu ketika menikmati indahnya Gunung Sumbing. Sekadar informasi yang mungkin pembaca sudah ketahui, Gunung Sumbing merupakan gunung tertinggi ketiga di Pulau Jawa, setelah Semeru dan Slamet. Gunung ini terletak di antara tiga kabupaten yaitu, Magelang, Temanggung, dan Wonosobo.

Penulis di sini, akan menyampaikan sesuai dengan apa yang disampaikan oleh para pejalan yang dapat kita panggil Vuvuwawa Team.

Sebelum memasuki cerita perjalanan yang tentunya sangat mengasyikan. Alangkah baiknya jika penulis menjelaskan apa itu Vuvuwawa Team. Vuvuwawa Team merupakan kelompok perjalanan yang berisikan anggota dari komunitas dengan nama Vuvuwawa. Pada perjalanan kali ini, mereka terhitung diisi oleh delapan personel. Sesuai yang dituturkan Vuvuwawa Team edisi Gunung Sumbing ini, semua personelnya merupakan pendaki pemula, atau dalam istilah yang kerap dipakai para gamers, noob.

Mereka keseluruhan berasal dari Klaten dan kebetulan satu SMA semua. Langsung saja kita masuk ke pembahasan cerita. Seluruh personel sepakat untuk berkumpul di SMA mereka, selepas sholat duhur dilanjut mengisi perut di Rumah Makan Padang yang tidak jauh dari tempat mereka berkumpul. Mereka langsung tarik gas dalam-dalam menuju Kabupaten Wonosobo, tepatnya di Basecamp Garung.

Perjalanan Vuvuwawa Team edisi Gunung Sumbing dari Pusat Kabupaten Klaten menuju Basecamp Garung di Wonosobo, memakan waktu kurang lebih 4 jam. Setidaknya melewati tiga kabupaten yaitu Sleman, Magelang, dan Temanggung. Dengan mengendarai lima sepeda motor, dua orang menunggangi sendiri, sisanya boncengan. Perjalanan sangat mereka nikmati. Lancar dan tak ada kendala sampai basecamp tujuan.

Mereka tiba, hampir bersamaan dengan azan maghrib berkumandang. Setelah registrasi kemudian salat maghrib, 8 remaja tersebut memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu di warung sekitaran basecamp, sambil membuat rencana pendakian. Setelah berunding, melihat situasi yang cukup berkabut tebal, seluruh anggota tim sepakat untuk bermalam di warung tersebut. Untuk menyimpan tenaga guna dipakai keesokan harinya, mereka tidur lebih cepat malam itu.

Keesokan harinya pukul 06.00 WIB, pendakian dimulai. Hal unik di awal perjalanan yaitu, menuju Pos 1 dapat ditempuh dengan “ngojek”. Ojek di sana sangat unik, dengan motor yang sudah dimodifikasi, pendaki yang menumpang berada di depan driver. ” Bagi saya, ini sangat unik sekaligus sedikit menegangkan”, tutur salah satu anggota. Ya menegangkan, medan menanjak berbatu dengan kecepatan lumayan tinggi penulis kira cukup menantang adrenalin.

Butuh 10-15 menit untuk menuju Pos 1 dengan “ngojek”, tergantung drivernya. Perjalanan langsung dilanjut menuju Pos 2. Masih belum ada tantangan yang lebih di sini. Namun, perlu pembaca ketahui bahwa dari Pos 1 ke Pos 2 lumayan panjang. Sekitar 70 menit waktu yang dibutuhkan untuk  menuju Pos 2. Di Pos 2 kita dapat melihat Gunung Sindoro dengan jelas.

 

Gunung Sindoro dilihat dari Pos 2.

 

Perjalanan mulai menantang selepas meninggalkan Pos 2. Berhubung Vuvuwawa Team edisi ini mendaki pada musim kemarau, Engkol-engkolan yang berada di antara Pos 2 dan Pos 3 menjadi medan penuh debu yang menantang. Apalagi ketika berpapasan dengan pendaki yang turun dengan ndlosor, debu semakin mengepul tak keruan. Ini menjadi medan paling seru menurut seluruh personel. Setelah melampaui Engkol-engkolan yang menakjubkan, mereka beristirahat sebentar sebelum menuju ke Pos 3. Semangat sudah kembali terkumpul, mereka berjalan lagi ke Pos 3, tak securam Engkol-engkolan tapi terhitung perlu perjuangan.

Setelah berjalan sekitar 80 menit mereka sampai di Pos 3. Berhubung di Pos 3 tempatnya kurang cocok untuk mendirikan tenda, rombongan menuju ke tempat berikutnya yaitu Camping Ground. Dimana di tempat tersebut banyak pendaki yang mendirikan tenda di sana. Sekitar setengah jam untuk sampai di sana. Setelah berunding dan menimbang-nimbang mereka memutuskan untuk mendirikan tenda dome di Camping Ground. Rencana mereka, akan “summit attack” pada sore hari untuk mengejar sunset. Beristirahat di tenda sampai sekitar pukul dua siang.

Kemudian mereka bersiap-siap menuju Puncak. Tak lupa mereka menyempatkan diri untuk mencicipi makanan di warung yang terletak di atas Camping Ground. Sekadar informasi, warung tersebut dikelola oleh seorang pemuda bernama Murtafaqo, biasa dipanggil Mas Taqo. Berdasarkan info yang didapat dari Mas Taqo, beliau setiap harinya naik turun gunung untuk berjualan di sana. Hebatnya, bukan hanya dilakukan setiap hari, ia juga cuma memerlukan kurang lebih 2 jam untuk sampai ke Camping Ground dari Pos 1. Ia tidak sendirian tentunya, ditemani oleh temannya yang belum sempat rombongan tanyakan nama beliau. Mereka berdua baru mulai berjualan setelah Lebaran 2018 kemarin.

 

Mengisi perut di Warung Mas Taqo.

 

Setelah berbincang-bincang dan bertanya perihal perjalanan menuju Puncak dengan Mas Taqo dan temannya. Informasi yang rombongan dapat diantaranya adalah, dari Warung sampai ke Puncak dibutuhkan waktu sekitar 3 jam. Seluruh anggota sudah sepakat untuk mengejar sunset. Mereka pun berangkat pukul setengah tiga.

Selepas meninggalkan Warung, jalan yang dilalui menjadi lebar bak Jalan Raya Jogja Solo, dan tentunya lebih terbuka daripada trek-trek sebelumnya. Vegetasi yang tumbuh di sepanjang jalan lebar tersebut kebanyakan berasal dari jenis rerumputan. Setelah berjalan kurang lebih satu setengah jam, mereka baru tiba di Watu Kotak. Di sana mereka istirahat sejenak sekaligus salat asar. Perjalanan kembali berlanjut, menurut informasi di Warung tadi. Ketika sudah bertemu dengan jalan putih (tanah kapur), rombongan disarankan untuk mengambil jalan di sisi kanan apabila ingin langsung menuju Puncak tertinggi dari Gunung Sumbing.

Matahari sudah mulai membenamkan diri di ufuk barat, ternyata perkiraan waktu tidak sesuai dengan pelaksanaannya. Pada saat tersebut, mereka bertemu dengan Mas Fauzi yang berasal dari Bandung dan dua orang lain, kebetulan nama dan asalnya penulis sedikit lupa. “Masih satu jam mas, buat sampai puncak”, tutur Mas Fauzi. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya dengan cukup kecewa rombongan memutuskan untuk kembali ke Camping Ground. Pasalnya bukan hanya hari yang sudah memasuki malam, tetapi air sudah hampir habis dan juga beberapa anggota mulai kedinginan.

 

Sunset yang sempat tertangkap kamera.

 

Perjalan menuju Camping Ground tidaklah mudah. Penerangan minimal, udara dingin, serta debu yang tak terlihat di malam hari kadang masuk ke lubang-lubang yang ada di dalam wajah. Sebuah masalah muncul, dimana ketika anggota yang salah kostum (memakai sepatu running licin) merasa kesulitan ketika rombongan terlalu cepat. Di sisi lain dua orang yang berasal dari rombongan lain buru-buru sampai ke Warung sebelum tutup, karena tas mereka masih di sana. Akhirnya, rombongan terpisah menjadi 2, yang kemudian nanti karena beberapa orang di rombongan pertama terlalu cepat, rombongan kembali terpisah menjadi 3. Syukurnya tidak ada yang cedera, lebih-lebih tersesat. Rombongan juga menyempatkan diri mampir di tenda Mas Fauzi dengan teman-temannya. Sedikit berbincang dan disuguhi kopi, menjadi pemandangan yang sangat indah pada malam itu.

“ Bahwa sejauh-jauhnya kita pergi, harus sadar kemana kita harus kembali. “

 

Sesampainya di tenda, setelah salat dan sedikit berberes diri, mereka sedikit mengepulkan nesting untuk mengisi kembali tenaga. Bercakap-cakap mengenai keadaan apabila malam tersebut mereka di rumah. Sebuah pelajaran dapat kita ambil dari hal ini. Bahwa sejauh-jauhnya kita pergi, harus sadar kemana kita harus kembali. Dan mereka juga sudah berdamai dengan kekecawaan tak berjumpa dengan puncak tertinggi ketiga se Pulau Jawa. Mereka telah sepakat, keselamatan jiwa dan raga lebih tinggi daripada puncak suatu gunung manapun.

 

Seluruh rombongan berfoto bersama.

 

Keesokan harinya, setelah puas berfoto ria dan memaniskan kembali isi tas carrier. Rombongan bersama-sama turun pada pukul 07.30 WIB dan sampai di Pos 1 sekitar pukul 10.00 WIB. Sekilas saja mengenai perjalanan turun, tentu hal yang paling menarik adalah saat bersama-sama mengepulkan debu di Engkol-engkolan. Tak kalah menarik juga ketika dua orang yang sudah duluan dengan ojek dua puluh lima ribunya sampai ke Basecamp, sedikit kecewa karena enam orang lainnya mendapat tebengan gratis dari sopir mobil bak terbuka yang kebetulan melintas.

“ Banyak pelajaran yang mereka petik dari perjalanan kali ini. Alam mengajarkan banyak hal bagi orang-orang yang ingin berfikir sambil menikmatinya. “

 

Salat Jumat mereka laksanakan di masjid dekat Basecamp, setelahnya mereka pulang. Seorang anggota yang punya nenek di Magelang mengajak untuk mampir sekaligus bersilaturahmi. Kembali melanjutkan perjalanan sekitar pukul setengah lima sore. Sebuah kejadian sedikit menyebalkan terjadi, ketika rombongan melintas di Sleman. Rantai motor salah satu anggota lepas dan parahnya njundet. Hampir tiga per empat jam mereka ngutek-utek sampai akhirnya, datang bapak-bapak membantu dan roda kembali berputar normal. Persiapan dari segi kendaraan sangatlah penting dalam sebuah perjalanan. Ingat pula, banyak orang peduli di sekitar kita. Jangan malu-malu untuk dibantu.

Tibalah mereka di Klaten sekitar pukul 20.30 WIB. Sebuah perjalanan mantab nan seru telah mereka lalui di penghujung libur Lebaran. Sebelum memasuki kembali rutinitas satu semester yang akan mereka lalui sebagai pelajar SMA. Banyak pelajaran yang mereka petik dari perjalanan kali ini. Alam mengajarkan banyak hal bagi orang-orang yang ingin berfikir sambil menikmatinya. Salam lestari !

Tinggalkan Balasan

Close Menu