Cerita Misterius, Hutan Pinus 3

Cerita Misterius, Hutan Pinus 3

HALOOO!! Selamat malam jumat hehehe, berlanjut kembali untuk seri yang ke 3 untuk cerita ini. Mungkin bagi kawan untuk yang belum membaca cerita sebelumnnya bisa dibaca dulu untuk mengikuti jalannya cerita, tidak disarankan untuk membacanya diruang sempit dan gelap karena bisa merusak mata, sekian.

KAMI KAGET!?

Saya tidak mempercayainya, apa yang dilakukan kawan saya di warung dekat pintu masuk. Mereka semua tertidur dengan sangat pulas. Saya dan Imam heran melihat mereka, atau mungkin mereka kelelahan kemudian warung masih tutup sehingga tertidur? Tetapi saya rasa tidak demikian. Pasti ada yang janggal disini.

“Mam, gimana nih?”

“Agak merinding bro, atau kita tinggalin aja,”

“Lah kalau ini anak kenapa-kenapa?”

“Dari pada kita yang kenapa-kenapa?”

Memang benar apa yang dikatakan Imam, dari pada diri sendiri? Kalau dikaitkan memang benar ini perjalanan yang kurang mengenakan bagi tim kami, banyak sekali kejadian disini itu yang membuat saya sama Imam menjadi agak resah.

Setelah lama berpikir saya putuskan untuk meninggalkan mereka dan lanjut perjalanan, walaupun suasana memang sedikit mencekam karena tak kunjung matahari tampak. Mungkin termasuk pilihan ideal karena tujuan kami awal adalah mencari sunrise di dataran tinggi hutan pinus ini.

“Mam, kita langsung aja cepet ke atas kabut menebal nih. Mungkin udah mulai turun ini kabut,”

“Bener, EHHHH!? Anjir HPku ketinggalan,”

“Anjirr!!! Punyaku juga, tadi ku charge di kamar,” Kemalangan menimpa kami, hanya kamera dan jam di tangan saja.

“Yaudah Mam, ngga masalah langsung saja,” Maafkan kami kawan, tetapi masih saja mengganjal dalam hati untuk meninggalkan mereka.

Perjalanan kami lanjutkan dengan sangat berat hati, tapi kami kira hal itu akan aman karena mereka sangat dekat dengan loket masuk, jadi kami putuskan untuk lanjut. Terus kami berjalan, jalan yang terus menanjak saya nikmati. Terus berjalan bukan berarti keadaan lebih mengenakan,

“Eh fiq, kok kabut belum juga hilang ya?”

“Eh iya ya, kok masih tebal, apa mungkin memang cuaca lagi buruk ini Mam,”

Alhasil kami tidak bisa ambil foto karena kabut yang saya rasa begitu mengganggu komposisi warna. Kami mencoba menikmati setiap perjalanan, tetapi yang benar saja kabut terus menyelimuti,

“Eh Mam, jamku mati nih,”

“yang bener, udah ngga bawa hp lho kita,”

“gimana nih,” memang sungguh kurang beruntung yang kami hadapi saat itu, telepon genggam sudah tidak bawa dan batu baterai jam pun juga masih sempat untuk habis. Bukan rasa takut lagi yang menyelimuti tetapi mulai rasa geram yang ada dipikiranku saat itu, kenapa harus mengunjungi hutan yang tidak jelas ini. Semakin menggerutu perasaanku semakin tidak nyaman hanya kegelisahan dan keresahan yang aku rasakan saat itu. Sudah tidak tahu lagi jam berapa sekarang, hanya pertanda matahari yang kami rasa pergerakannya sangat pelan. Jauh di ufuk sudah mulai terlihat tanda-tanda matahari, seperti lega rasanya.

“Ayo mam, agak cepat,”

“Ada yang salah ini sama kaki,”

Sekitar 10 menit perjalanan suatu kejadian menimpa Imam,

“Kenapa kamu mam?”

“Mungkin, gara-gara aku tadi sedikit berpikir yang tidak-tidak tentang tempat ini,”

Mungkin hal ini terjadi diluar nalar manusia, tetapi seperti luka yang terjadi di kaki Imam memang benar adanya. Saya memutuskan untuk istirahat dan sedikit membantu luka Imam disebuah batu yang cukup besar, tidak berhenti disitu kejanggalan yang kami rasakan, ada sesuatu yang aneh yang mengharuskan cerita berlanjut di pekan depan.

Bang Toms

Feel good for blogging, travelling, and camera.

This Post Has 3 Comments

  1. Ditunggu part 4 nya

    1. Halo! tunggu malam jumat yaa ehehe

Tinggalkan Balasan

Close Menu