Cerita Misterius, Hutan Pinus 2

Cerita Misterius, Hutan Pinus 2

HALOOOO!! kembali dengan serial cerita “Cerita Misterius, Hutan Pinus”. Melihat lumayan antusias #vuvuwawateam dengan seri cerita ini maka dengan kesungguhan hati dan niat kami lanjutkan. HEHE Jika sobat belum membaca cerita yang pertama saya sarankan untuk membaca terlebih dahulu.

 

Kami melanjutkan perjalanan kami menuju hutan pinus. Bayangan kami hal ini akan menjadi sangat menyenangkan dan menarik melihat panorama alam yang begitu indah dan terbitnya matahari yang begitu mempesona. Setelah lama sekali kami diperjalanan yang notabene bisa ditempuh sekitar 30 menit perjalanan dari kota tetapi perasaan saya seakaan perjalanan 3 jam yang sangat melelahkan.

Sesampai disana tidak ada orang satupun, waktu di jam tangan saya menunjukan pukul 05.07. Saya berpikir mungkin ini benar, karena memang terlalu pagi untuk orang berwisata bahkan untuk loketing maupun warung disekitar lokasi. Tetapi ada nenek-nenek yang sedang merapikan sebuah warung didekat loketing, kami mencoba menghampiri dan minta izin untuk masuk.

“Buk, sudah bisa masuk hutan?”

“Pagi sekali mas. Masuk saja parkir didalam.”

“Terimakasih buk.”

Kami masuk tanpa membayar tiket karena memang belum buka. Suasana dingin, sepi, menjadikan hutan terasa sangat alami. Untuk mencari sunrise kami harus berjalan naik keatas cukup jauh. Yang membuat kami cukup heran adalah kabut yang menyelimuti hutan sangat lebat padahal di pintu masuk terlihat sangat terang dan tidak ada kabut.

Kami mencoba menikmati perjalanan kami, sesekali kami mengambil momen diperjalanan. Sewaktu kami sibuk sendiri mengambil foto, kawan saya terasa haus semua kecuali saya. Yang benar saja tadi kami berhenti untuk minum tetapi mereka masih saja haus sedangkan perjalanan menuju puncak masihlah sangat lama. Saya sangat bersyukur yang awalnya tadi mengambil inisiatif untuk lebih memilih untuk menyimpan persediaan air.

“Bro, kita ke tempat nenek tadi aja beli minum, tadikan keliatannya lagi beres-beres,”

“Jangan bro, aku agak ngeri sama neneknya,”

“Kalian mau mati kehausan?”

“……” walaupun saya mempunyai minum, lebih baik saya diam, saya mempunyai firasat kalau minum ini harus saya simpan terlebih dahulu. Hati terasa sangat berat untuk melangkah ke warung nenek tadi.

“Mam, kita tunggu saja di hutan sini,”

“Bener juga ya, agak ngeri aku,”

“Yaudah biar aku yang bilang ke Wawan,”

………………………………….

“Wan, aku sama Imam ngga ikut ke warung, aku tunggu di tempat itu,”

“Yaudah jangan kemana-kemana,”

Mereka mulai menjauhi kami sembari saya sama Imam mencoba setting kamera. Jam di tangan saya menunjukkan pukul 05.18 dan langit masih tampak gelap mungkin karena kabut yang terlalu tebal. Hati saya mulai gelisah tak menentu mengingat teman-teman saya, karena firasat saya ada yang tidak beres dengan lokasi warung tadi. Ternyata memang benar yang saya duga bersambung dengan cerita selanjutnya.

Bang Toms

Feel good for blogging, travelling, and camera.

This Post Has 2 Comments

  1. kan gantung lagi hmmm

Tinggalkan Balasan

Close Menu